Knowledge adalah pengetahuan yang dimiliki seorang individu berdasarkan dari caranya menghabiskan waktu, dan mendapat sebuah pengalaman yang mengena/ disimpan di "otak" yang biasa di sebut ingatan.
tapi pada dasarnya sebuah ingatan yang mudah tememori/ terekam sangat jelas yaitu dimana sebuah pengetahuan yang memiliki kesan, berperasaan pastinya.
rasa bicara tentang rasa adalah hal yang dimiliki oleh setiap orang dan rasa adalah hal ghoib yang menjadi nyata dengan cara kita bertingkah.
rasa berada dalam jiwa merupakan istilah bahasa Indonesia sehari-hari dan yang
dikenal tiap-tiap orang, sehingga kamipun menggunakannya dalam artinya
yang luas dan telah lazim dipahami orang. Pengetahuan” suatu istilah
yang “scientific”, sehingga kami mempergunakannya untuk menunujukan kepada pengetahuan ilmu jiwa yang bercorak ilmiah tertentu
Sejarah Ilmu Jiwa.
Sebenarnya sejak berabad-abad lamanya manusia telah ber-“ilmu jiwa”,
telah memikirkan dengan khusus apakah hakekat dari pada jiwa manusia dan
jiwa makhluk lainnya. Pemikiran ini bersifat filsafah terutama dalam
arti, mencari pengetahuan mengenai dasr-dasarnya dan hakekatnya jiwa
itu. Corak pemikiran filsafah zaman lampau itu ialah “atomistis”, dalam
arti bahwa jiwa manusia dianggap sebagai sesuat yang constant dan tidak
berubah.
Pandangan ilmu jiwa zaman lampau itu tidak hanya memisahkan jiwa
dari pada raga, melainkan jiwa itupun dipisah-pisahkanyya menjadi
“daya-daya tertentu yang bekerja tersendiri secara terbatas tanpa ada
saling hubungannya yang dinamis antara yang satu dengan yang lain. Maka
pandangan semacam ini disebujt pula pandangan “atomistis”. Yang hanya
memperhatikan pecahan-pecahan dari pada jiw-manusia serta
fungsi-fungsinya yang terbatas-batas, tanpa memperhatiakn saling
hubungan serta dinamika ke dalam seluruh jiwa raga itu.
Pandangan atomistis itu yang tampak dengan jelas pada hasil pemikiran
kaum filsuf-filsuf sejak Plato sampai kepada pertengahan abad ke-19,
merupakan pandangan yang khas daripada ilmu jiwa zaman lampau, Yng sudah
kolot itu. Pada akhir abad yang ke-19 ketika lahirnya
aliran”experimental psychology” yang tidak hanya bersifilfiah saja
mengenai gejala-gejala kejiwaan melainkan juga menelitinya secra empiris
dengan menggunakan metode-metode ilmiah yang seobyektif mungkin.
Maka dengan demikian dapatlah kita beda-bedakan dua bagian besar di
dalam maninjau kepada sejarah perkembangan ilmu jiwa pada umumnya, ialah
sejarah ilmujiwaketika masih bertaraf Cabang Ilmu Pengetahuan Filsafat, dan sejarah ilmu jiwa ketika sudah menjadi Ilmu Pengetahuan Otonom dan
berdiri sendiri seperti yang terjadi pada akhir abad ke-19 itu. Mulai
pada akhir abad ke-19, maka ilmu jiwa dapat disebut psychologi yang di
dalam hal isi, maka ilmu jiwa dapat disebut psychologi yang di dalam hal isi, metode, dan penggunaannya sudah berbeda dengan taraf ilmu jiwa sebelumnya.
1. Plato
Plato berpendapat bahwa jiwa manusia itu terbagi atas dua bagian, ialah jiwa rohaniah dan jiwa badaniah.
Jiwa rohaniah berpokok pada ratio dan logika manusia, dan merupakan
bagian jiwa yang tertinggi, sebab tak pernah akan mati. JIwa badaniah
itu dibagi ke dalam dua bagian lagi, ialah bagian jiwa dan disebutnya kemauan dan bagian yang kedua disebutnya nafsu perasaan.
Kemauan itu adalah jiwa badaniah yang berusaha untuk mentaati ratio
kecerdasan , sedangkan nafsu perasan merupakan jiwa badaniah yang
senantiasa melawan ketentuan-ketentuan dari ratio kecerdasan manusia
2. Aristoteles
Pendapat Aristoteles, (tahun 384-323 S.M.) baginya ilmu jiwa adalah
ilmu mengenai gejala-gejala hidup. sehingga tiap-tiap makhluk hidup itu
sebenarnya mempunyai jiwa.
Penemuan aristoteles yang kelak mempunyai peranan penting dalam
perkembangan ilmu jiwa perumusannya mengenai dalil-dalil asosiasi dalam
ingatan orang. Menurut aristoteles maka dua atau lebih ingatan, mudah
terasosiasi apabila ingatn-ingatan tersebut berdasarkan
kejadian-kejadian yang dahulunya telah berlangsung:
- Pada waktu yang sama
- Dengan berurutan waktu
- Dengan persamaan artinya
- Dengan berlawanan artinya.
- 3. Descaste
Menurut descaster maka manusia itu terdiri atas 2 macam zat yang
berbeda secara hakiki, ialah res cogitans atau zat yang dapat berfikir
dan res extensa atau zat yang mempunyai luas.
Menurut pendapat Descartes makailmu jiwa adalah pengetahuan mengenai
gejala-gejala pemikiran atau gejala-gejala kesadaran manusia, terlepas
dari badanya. Hubungan jiwa raga adalah demikian erat , sehingga tekanan
jiwa yang besar dapat mempengaruhi kesehatan badan penyakit yan
psychogeen, dan sebaliknya.
4. Jonh Locke
Jonh Locke berpendapat bahwa :
- Semua pengetahuan, tanggapan dan perasaan jiwa manusia itu diperolehnya karena pengalaman melalui alat-alat indranya.
- Susunan gejala-gejala manusia menurut J. Locke itu pada akhirnya
terdiri atas unsur-unsur pengalaman sederhana yang menggabungkan diri
menjadi gejala jiwa yang lebih rumit seperti komplek-komplek perasaan ,
berteori yang sulit dll.
5. David hume
Menurut hume terdapat pula unsure-unsur pengalaman lainnya ialah: impression (rasa), dan ideas (ingatan), sehingga kelangsungan-kelangsunagn di dalam jiwa orang itu dapat diuraikan ke dalam dasar unsure-unsurnya sebanyak 4 buah itu . ialah:
- Impression of sensations
- Impression of refrections
- Ideas of sensations
- Ideas of refrections,
Menurut hume terdapatlah tiga dalil asosiasi .ialah:
- Asosiasi karena berdekatan dalam waktu dan ruang
- Asosiasi karena persamaan artiasosiasi karena sebab akibat
6. Wilhelm wundt
Bahwa gejala kejiwaan itu mempunayi sifat-sifat atau dalil-dalil yang
khas dan yang harus diselidiki oleh sarjana ilmu jiwa secara khas,
mendirikan suatu laboratorium psychology pertama, yang menjadi pusat
penelitian psychology secara experimentil. “ bewusztsinspychologie”,
atau gejal-gejala psychis yang berlangsung di dalam jiwa yang sadar
bagi diri manusia itu, sesuai dengan rumusan Descartes mengenai
gejala-gejala kesadaran manusia.
7. Sigmund Freud
Bahwa pergolakan jiwa manusia itu tidak hanya melibatkan kelangsungan
yang sadar bagi diri orang yang bersangkutan, melainkan juga melibatkan
pergolakan yang tidak sadar atau bawah sadar pada diri orang tersebut.
Menurut freud terdapatlah tiga golongan gejala-gejala jiwa yang
membuktikan adanya dinamika daripada alam taksadar itu. Ialah :
- Gejala-gejala tingkah-laku keliru
- Gejala-gejala mimpi
- Gejala-gejala neurose
8. Szondi
Szondi, seorang Hungaria yang gidup di Swiss, merupakan penemu dari
alam tak sadar kekeluargaan atau “das familiaere Unbewusste”. Alam tak
sadar keluarga itu merupakan sesuatu yang dimiliki oleh sekeluarga serta
turunan-turunannya. Menurut Szondi, alam-tak-sadar-keluarga ini turut
menentukan nasib riwayat kehidupan anggota-anggota keluarga yang
bersangkutan, oleh karena alam tak sadar ini mempengaruhinya dalam hal
memilih kawan-kawan sekelompok. Memilih pendidikan lanjutan, memilih
jabatan, memilih jodoh dengan kata pendek, alam tak sadar-keluarga ini
mempengaruhi, semua pilihan-pilihan yang menentukan jalan riwayat
kehidupan orang.
9. Carl C. Jung
Menurut Jung disamping adanya alam-tak-sadar individual (Freud) dan
alam-tak-sadar keluarga (Szondi) terdapat pula semacam alam-tak-sadar
kollektif yang lebih umum dan yang dimiliki bersama oleh suatu
masyarakat, bangsa atau umat manusia.
PENGERTIAN JIWA DAN ROH
Jiwa,
dalam bahasa Arab disebut Nafs, dan dalam bahasa Yunani disebut Psyche
yang diterjemahkan dengan jiwa atau Soul dalam bahasa Inggris. Sedangkan
Roh biasanya diterjemahkan dengan Nyawa atau Spirit.
Jadi,
sebenarnya, sejak manusia mengalami proses kejadian Sampai sempurna
menjadi janin dan dilahirkan ke atas dunia, telah ada unsur lain yang
bukan fisik material yang ikut menyusun semua peristiwa penciptaan itu.
Justru adanya unsur non-fisik inilah yang membedakan manusia dari
makhluk hidup lainnya sebagai satu kelebihan. Kelebihan ini akhirnya
tampak nyata pada norma-norma nafsiyah (psikologis) dengan segala
kegiatannya. - See more at:
http://nurisfm.blogspot.com/2012/03/pengertian-jiwa-dan-roh.html#sthash.NvFsISOP.dpuf
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari
berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk
penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik
bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan
kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan.
Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan
menghubungi Pengurus Nurisfm. Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan
umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon
Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
PENGERTIAN JIWA DAN ROH

PENGERTIAN JIWA DAN ROH
Jiwa,
dalam bahasa Arab disebut Nafs, dan dalam bahasa Yunani disebut Psyche
yang diterjemahkan dengan jiwa atau Soul dalam bahasa Inggris. Sedangkan
Roh biasanya diterjemahkan dengan Nyawa atau Spirit.
Jadi,
sebenarnya, sejak manusia mengalami proses kejadian Sampai sempurna
menjadi janin dan dilahirkan ke atas dunia, telah ada unsur lain yang
bukan fisik material yang ikut menyusun semua peristiwa penciptaan itu.
Justru adanya unsur non-fisik inilah yang membedakan manusia dari
makhluk hidup lainnya sebagai satu kelebihan. Kelebihan ini akhirnya
tampak nyata pada norma-norma nafsiyah (psikologis) dengan segala
kegiatannya.
Jadi, apa jiwa itu?
Plato (477-347 sM)
berpendapat bahwa jiwa itu adalah sesuatu yang immaterial, abstrak dan
sudah ada lebih dahulu di alam praserisoris. Kemudian is bersarang di
tubuh manusia dan mengambil lokasi di kepala (logition, pikiran), di
dada (thumeticon, kehendak) dan di perut (abdomen, perasaan). Pendapat
ini kemudian dikenal dengan istilah Trichotomi. Menurut Plato, ketiga
unsur inilah yang mendasari seluruh aktivitas manusia. Dengan kata lain,
seluruh kegiatan hidup kejiwaan manusia mempunyai dasar yang kuat pada
ketiga unsur tersebut. Sejajar dengan trichotominya, Plato mengatakan
bahwa manusia akan memiliki sifat Bijaksana (jika pikiran menguasai
dirinya) dan Ksatria atau Berani (jika kehendak menguasai dirinya) serta
Kesederhanaan (jika perasaannya tunduk pada akalnya). Maka apabila
ketiga sifat itu menguasai manusia,berarti ia telah memiliki kesadaran
sebagai manusia. Sadar artinya mengerti secara aktif. Dengan kesadaran
inilah, manusia selalu cenderung untuk menentukan sendiri bentuk-bentuk
aktivitas hidupnya dan tingkah-laku yang diwujudkannya, maupun finalita
dalam kehidupannya.
Aristoteles (384-322 sM) berpendapat lain
dari gurunya. Menurut dia jiwa itu adalah daya hidup bagi makhluk hidup.
Jadi, di mana ada hidup di situlah ada jiwa. Daya kehendak dan mengenal
merupakan dua fungsi jiwa manusia. Kemudian pendapatnya ini dikenal
dengan istilah dichotomi. Selanjutnya dia menjelaskan, bahwa jiwa
sebagai sesuatu yang abstrak (dunia idea) halus menempati atau berada
dalam tubuh (dunia materi) menjadi daya hidup yang nyata, (realita).
Karena realisasi dari jiwa ini memang merupakan tujuan untuk membentuk
sesuatu (tingkah laku) menurut hakikatnya yang sudah ditentukan terlebih
dahulu untuk mencapai suatu tujuan, maka ia menjadi. Menjadi di sini
berarti kemungkinan untuk berwujud. Artinya, semua potensi yang ada akan
menampak nyata (aktual). Jiwa itulah potensi yang ada dalam tubuh
sehingga mengaktualisasi dalam bentuk tingkah-laku. Sebelum tingkah laku
itu terwujud, ia masih merupakan kemungkinan (potensial) dan setelah
terbentuk atau terjadi maka ia disebut Hule. Setiap kejadian (hule)
pasti ada yang menjadikan (Murphe) dengan demikian, dalam diri manusia
terdapat unsur Hule-Morpheisme.
Rene Descartes (1596-1656 M)
berpendapat bahwa jiwa merupakan Zat Rohaniah, dan tubuh adalah Zat
Jasmaniah. Dari zat rohaniah inilah munculnya tingkah laku manusia yang
disebut tingkah laku rasional. Sedangkan dari zat jasmaniah itu muncul
tingkah laku mekanis. Antara dua zat kejiwaan dan zat ketubuhan itu
berada dalam perbedaan yang terpisah, tetapi keduanya dihubungkan dengan
adanya kelenjar Pinealis, sehingga rangsang-rangsang ketubuhan dapat
diteruskan melalui kelenjar ini ke aspek kejiwaan dan sebaliknya.
Selanjutnya dia menyatakan bahwa jiwa manusia berpokok pada kesadaran
atau akal pikirannya, sedangkan tubuhnya tunduk kepada hukum-hukum
alamiah dan terikat kepada nafsu-nafsunya. Paham ini dikenal dengan
Dualisme.
Selain Descartes ada sarjana yang berpendapat bahwu untura
ketubuhan dan kejiwaan (jiwa dan raga) itu tidak dapat bedakan karena
keduanya merupakan kesatuan secara interaksi, dan tidak saling terpisah,
tetapi merupakan satu hubungan kausalitas.
Pendapat ini kemudian dikenal dengan teoriMonisme.
- See more at: http://nurisfm.blogspot.com/2012/03/pengertian-jiwa-dan-roh.html#sthash.NvFsISOP.dpuf
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari
berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk
penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik
bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan
kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan.
Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan
menghubungi Pengurus Nurisfm. Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan
umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon
Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
PENGERTIAN JIWA DAN ROH

PENGERTIAN JIWA DAN ROH
Jiwa,
dalam bahasa Arab disebut Nafs, dan dalam bahasa Yunani disebut Psyche
yang diterjemahkan dengan jiwa atau Soul dalam bahasa Inggris. Sedangkan
Roh biasanya diterjemahkan dengan Nyawa atau Spirit.
Jadi,
sebenarnya, sejak manusia mengalami proses kejadian Sampai sempurna
menjadi janin dan dilahirkan ke atas dunia, telah ada unsur lain yang
bukan fisik material yang ikut menyusun semua peristiwa penciptaan itu.
Justru adanya unsur non-fisik inilah yang membedakan manusia dari
makhluk hidup lainnya sebagai satu kelebihan. Kelebihan ini akhirnya
tampak nyata pada norma-norma nafsiyah (psikologis) dengan segala
kegiatannya.
Jadi, apa jiwa itu?
Plato (477-347 sM)
berpendapat bahwa jiwa itu adalah sesuatu yang immaterial, abstrak dan
sudah ada lebih dahulu di alam praserisoris. Kemudian is bersarang di
tubuh manusia dan mengambil lokasi di kepala (logition, pikiran), di
dada (thumeticon, kehendak) dan di perut (abdomen, perasaan). Pendapat
ini kemudian dikenal dengan istilah Trichotomi. Menurut Plato, ketiga
unsur inilah yang mendasari seluruh aktivitas manusia. Dengan kata lain,
seluruh kegiatan hidup kejiwaan manusia mempunyai dasar yang kuat pada
ketiga unsur tersebut. Sejajar dengan trichotominya, Plato mengatakan
bahwa manusia akan memiliki sifat Bijaksana (jika pikiran menguasai
dirinya) dan Ksatria atau Berani (jika kehendak menguasai dirinya) serta
Kesederhanaan (jika perasaannya tunduk pada akalnya). Maka apabila
ketiga sifat itu menguasai manusia,berarti ia telah memiliki kesadaran
sebagai manusia. Sadar artinya mengerti secara aktif. Dengan kesadaran
inilah, manusia selalu cenderung untuk menentukan sendiri bentuk-bentuk
aktivitas hidupnya dan tingkah-laku yang diwujudkannya, maupun finalita
dalam kehidupannya.
Aristoteles (384-322 sM) berpendapat lain
dari gurunya. Menurut dia jiwa itu adalah daya hidup bagi makhluk hidup.
Jadi, di mana ada hidup di situlah ada jiwa. Daya kehendak dan mengenal
merupakan dua fungsi jiwa manusia. Kemudian pendapatnya ini dikenal
dengan istilah dichotomi. Selanjutnya dia menjelaskan, bahwa jiwa
sebagai sesuatu yang abstrak (dunia idea) halus menempati atau berada
dalam tubuh (dunia materi) menjadi daya hidup yang nyata, (realita).
Karena realisasi dari jiwa ini memang merupakan tujuan untuk membentuk
sesuatu (tingkah laku) menurut hakikatnya yang sudah ditentukan terlebih
dahulu untuk mencapai suatu tujuan, maka ia menjadi. Menjadi di sini
berarti kemungkinan untuk berwujud. Artinya, semua potensi yang ada akan
menampak nyata (aktual). Jiwa itulah potensi yang ada dalam tubuh
sehingga mengaktualisasi dalam bentuk tingkah-laku. Sebelum tingkah laku
itu terwujud, ia masih merupakan kemungkinan (potensial) dan setelah
terbentuk atau terjadi maka ia disebut Hule. Setiap kejadian (hule)
pasti ada yang menjadikan (Murphe) dengan demikian, dalam diri manusia
terdapat unsur Hule-Morpheisme.
Rene Descartes (1596-1656 M)
berpendapat bahwa jiwa merupakan Zat Rohaniah, dan tubuh adalah Zat
Jasmaniah. Dari zat rohaniah inilah munculnya tingkah laku manusia yang
disebut tingkah laku rasional. Sedangkan dari zat jasmaniah itu muncul
tingkah laku mekanis. Antara dua zat kejiwaan dan zat ketubuhan itu
berada dalam perbedaan yang terpisah, tetapi keduanya dihubungkan dengan
adanya kelenjar Pinealis, sehingga rangsang-rangsang ketubuhan dapat
diteruskan melalui kelenjar ini ke aspek kejiwaan dan sebaliknya.
Selanjutnya dia menyatakan bahwa jiwa manusia berpokok pada kesadaran
atau akal pikirannya, sedangkan tubuhnya tunduk kepada hukum-hukum
alamiah dan terikat kepada nafsu-nafsunya. Paham ini dikenal dengan
Dualisme.
Selain Descartes ada sarjana yang berpendapat bahwu untura
ketubuhan dan kejiwaan (jiwa dan raga) itu tidak dapat bedakan karena
keduanya merupakan kesatuan secara interaksi, dan tidak saling terpisah,
tetapi merupakan satu hubungan kausalitas.
Pendapat ini kemudian dikenal dengan teoriMonisme.
- See more at: http://nurisfm.blogspot.com/2012/03/pengertian-jiwa-dan-roh.html#sthash.NvFsISOP.dpuf
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari
berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk
penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik
bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan
kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan.
Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan
menghubungi Pengurus Nurisfm. Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan
umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon
Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
PENGERTIAN JIWA DAN ROH

PENGERTIAN JIWA DAN ROH
Jiwa,
dalam bahasa Arab disebut Nafs, dan dalam bahasa Yunani disebut Psyche
yang diterjemahkan dengan jiwa atau Soul dalam bahasa Inggris. Sedangkan
Roh biasanya diterjemahkan dengan Nyawa atau Spirit.
Jadi,
sebenarnya, sejak manusia mengalami proses kejadian Sampai sempurna
menjadi janin dan dilahirkan ke atas dunia, telah ada unsur lain yang
bukan fisik material yang ikut menyusun semua peristiwa penciptaan itu.
Justru adanya unsur non-fisik inilah yang membedakan manusia dari
makhluk hidup lainnya sebagai satu kelebihan. Kelebihan ini akhirnya
tampak nyata pada norma-norma nafsiyah (psikologis) dengan segala
kegiatannya.
Jadi, apa jiwa itu?
Plato (477-347 sM)
berpendapat bahwa jiwa itu adalah sesuatu yang immaterial, abstrak dan
sudah ada lebih dahulu di alam praserisoris. Kemudian is bersarang di
tubuh manusia dan mengambil lokasi di kepala (logition, pikiran), di
dada (thumeticon, kehendak) dan di perut (abdomen, perasaan). Pendapat
ini kemudian dikenal dengan istilah Trichotomi. Menurut Plato, ketiga
unsur inilah yang mendasari seluruh aktivitas manusia. Dengan kata lain,
seluruh kegiatan hidup kejiwaan manusia mempunyai dasar yang kuat pada
ketiga unsur tersebut. Sejajar dengan trichotominya, Plato mengatakan
bahwa manusia akan memiliki sifat Bijaksana (jika pikiran menguasai
dirinya) dan Ksatria atau Berani (jika kehendak menguasai dirinya) serta
Kesederhanaan (jika perasaannya tunduk pada akalnya). Maka apabila
ketiga sifat itu menguasai manusia,berarti ia telah memiliki kesadaran
sebagai manusia. Sadar artinya mengerti secara aktif. Dengan kesadaran
inilah, manusia selalu cenderung untuk menentukan sendiri bentuk-bentuk
aktivitas hidupnya dan tingkah-laku yang diwujudkannya, maupun finalita
dalam kehidupannya.
Aristoteles (384-322 sM) berpendapat lain
dari gurunya. Menurut dia jiwa itu adalah daya hidup bagi makhluk hidup.
Jadi, di mana ada hidup di situlah ada jiwa. Daya kehendak dan mengenal
merupakan dua fungsi jiwa manusia. Kemudian pendapatnya ini dikenal
dengan istilah dichotomi. Selanjutnya dia menjelaskan, bahwa jiwa
sebagai sesuatu yang abstrak (dunia idea) halus menempati atau berada
dalam tubuh (dunia materi) menjadi daya hidup yang nyata, (realita).
Karena realisasi dari jiwa ini memang merupakan tujuan untuk membentuk
sesuatu (tingkah laku) menurut hakikatnya yang sudah ditentukan terlebih
dahulu untuk mencapai suatu tujuan, maka ia menjadi. Menjadi di sini
berarti kemungkinan untuk berwujud. Artinya, semua potensi yang ada akan
menampak nyata (aktual). Jiwa itulah potensi yang ada dalam tubuh
sehingga mengaktualisasi dalam bentuk tingkah-laku. Sebelum tingkah laku
itu terwujud, ia masih merupakan kemungkinan (potensial) dan setelah
terbentuk atau terjadi maka ia disebut Hule. Setiap kejadian (hule)
pasti ada yang menjadikan (Murphe) dengan demikian, dalam diri manusia
terdapat unsur Hule-Morpheisme.
Rene Descartes (1596-1656 M)
berpendapat bahwa jiwa merupakan Zat Rohaniah, dan tubuh adalah Zat
Jasmaniah. Dari zat rohaniah inilah munculnya tingkah laku manusia yang
disebut tingkah laku rasional. Sedangkan dari zat jasmaniah itu muncul
tingkah laku mekanis. Antara dua zat kejiwaan dan zat ketubuhan itu
berada dalam perbedaan yang terpisah, tetapi keduanya dihubungkan dengan
adanya kelenjar Pinealis, sehingga rangsang-rangsang ketubuhan dapat
diteruskan melalui kelenjar ini ke aspek kejiwaan dan sebaliknya.
Selanjutnya dia menyatakan bahwa jiwa manusia berpokok pada kesadaran
atau akal pikirannya, sedangkan tubuhnya tunduk kepada hukum-hukum
alamiah dan terikat kepada nafsu-nafsunya. Paham ini dikenal dengan
Dualisme.
Selain Descartes ada sarjana yang berpendapat bahwu untura
ketubuhan dan kejiwaan (jiwa dan raga) itu tidak dapat bedakan karena
keduanya merupakan kesatuan secara interaksi, dan tidak saling terpisah,
tetapi merupakan satu hubungan kausalitas.
Pendapat ini kemudian dikenal dengan teoriMonisme.
- See more at: http://nurisfm.blogspot.com/2012/03/pengertian-jiwa-dan-roh.html#sthash.NvFsISOP.dpuf
Naskah tentang Ilmu Agama Islam dalam media ini diambil dan disusun dari
berbagai sumber. Tidak tercantumnya sumber dan penulis, bermaksud untuk
penyajian ilmu yang 'netral' semata. Mudah-mudahan menjadikan amal baik
bagi penulisnya dan mendatangkan kebaikan bagi sesama. Kelemahan dan
kekurangan serta segala yang kurang berkenan dihati mohon dimaafkan.
Apabila ada pihak yang keberatan atau merasa dirugikan dimohonkan
menghubungi Pengurus Nurisfm. Dan untuk naskah-naskah ilmu pengetahuan
umum, Insya Allah akan dicantumkan sumber dan atau penulisnya. Mohon
Maaf sebelumnya, sekian dan terima kasih ^-^
PENGERTIAN JIWA DAN ROH

PENGERTIAN JIWA DAN ROH
Jiwa,
dalam bahasa Arab disebut Nafs, dan dalam bahasa Yunani disebut Psyche
yang diterjemahkan dengan jiwa atau Soul dalam bahasa Inggris. Sedangkan
Roh biasanya diterjemahkan dengan Nyawa atau Spirit.
Jadi,
sebenarnya, sejak manusia mengalami proses kejadian Sampai sempurna
menjadi janin dan dilahirkan ke atas dunia, telah ada unsur lain yang
bukan fisik material yang ikut menyusun semua peristiwa penciptaan itu.
Justru adanya unsur non-fisik inilah yang membedakan manusia dari
makhluk hidup lainnya sebagai satu kelebihan. Kelebihan ini akhirnya
tampak nyata pada norma-norma nafsiyah (psikologis) dengan segala
kegiatannya.
Jadi, apa jiwa itu?
Plato (477-347 sM)
berpendapat bahwa jiwa itu adalah sesuatu yang immaterial, abstrak dan
sudah ada lebih dahulu di alam praserisoris. Kemudian is bersarang di
tubuh manusia dan mengambil lokasi di kepala (logition, pikiran), di
dada (thumeticon, kehendak) dan di perut (abdomen, perasaan). Pendapat
ini kemudian dikenal dengan istilah Trichotomi. Menurut Plato, ketiga
unsur inilah yang mendasari seluruh aktivitas manusia. Dengan kata lain,
seluruh kegiatan hidup kejiwaan manusia mempunyai dasar yang kuat pada
ketiga unsur tersebut. Sejajar dengan trichotominya, Plato mengatakan
bahwa manusia akan memiliki sifat Bijaksana (jika pikiran menguasai
dirinya) dan Ksatria atau Berani (jika kehendak menguasai dirinya) serta
Kesederhanaan (jika perasaannya tunduk pada akalnya). Maka apabila
ketiga sifat itu menguasai manusia,berarti ia telah memiliki kesadaran
sebagai manusia. Sadar artinya mengerti secara aktif. Dengan kesadaran
inilah, manusia selalu cenderung untuk menentukan sendiri bentuk-bentuk
aktivitas hidupnya dan tingkah-laku yang diwujudkannya, maupun finalita
dalam kehidupannya.
Aristoteles (384-322 sM) berpendapat lain
dari gurunya. Menurut dia jiwa itu adalah daya hidup bagi makhluk hidup.
Jadi, di mana ada hidup di situlah ada jiwa. Daya kehendak dan mengenal
merupakan dua fungsi jiwa manusia. Kemudian pendapatnya ini dikenal
dengan istilah dichotomi. Selanjutnya dia menjelaskan, bahwa jiwa
sebagai sesuatu yang abstrak (dunia idea) halus menempati atau berada
dalam tubuh (dunia materi) menjadi daya hidup yang nyata, (realita).
Karena realisasi dari jiwa ini memang merupakan tujuan untuk membentuk
sesuatu (tingkah laku) menurut hakikatnya yang sudah ditentukan terlebih
dahulu untuk mencapai suatu tujuan, maka ia menjadi. Menjadi di sini
berarti kemungkinan untuk berwujud. Artinya, semua potensi yang ada akan
menampak nyata (aktual). Jiwa itulah potensi yang ada dalam tubuh
sehingga mengaktualisasi dalam bentuk tingkah-laku. Sebelum tingkah laku
itu terwujud, ia masih merupakan kemungkinan (potensial) dan setelah
terbentuk atau terjadi maka ia disebut Hule. Setiap kejadian (hule)
pasti ada yang menjadikan (Murphe) dengan demikian, dalam diri manusia
terdapat unsur Hule-Morpheisme.
Rene Descartes (1596-1656 M)
berpendapat bahwa jiwa merupakan Zat Rohaniah, dan tubuh adalah Zat
Jasmaniah. Dari zat rohaniah inilah munculnya tingkah laku manusia yang
disebut tingkah laku rasional. Sedangkan dari zat jasmaniah itu muncul
tingkah laku mekanis. Antara dua zat kejiwaan dan zat ketubuhan itu
berada dalam perbedaan yang terpisah, tetapi keduanya dihubungkan dengan
adanya kelenjar Pinealis, sehingga rangsang-rangsang ketubuhan dapat
diteruskan melalui kelenjar ini ke aspek kejiwaan dan sebaliknya.
Selanjutnya dia menyatakan bahwa jiwa manusia berpokok pada kesadaran
atau akal pikirannya, sedangkan tubuhnya tunduk kepada hukum-hukum
alamiah dan terikat kepada nafsu-nafsunya. Paham ini dikenal dengan
Dualisme.
Selain Descartes ada sarjana yang berpendapat bahwu untura
ketubuhan dan kejiwaan (jiwa dan raga) itu tidak dapat bedakan karena
keduanya merupakan kesatuan secara interaksi, dan tidak saling terpisah,
tetapi merupakan satu hubungan kausalitas.
Pendapat ini kemudian dikenal dengan teoriMonisme.
- See more at: http://nurisfm.blogspot.com/2012/03/pengertian-jiwa-dan-roh.html#sthash.NvFsISOP.dpuf
No comments:
Post a Comment